Tampilkan postingan dengan label Kimia Fisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia Fisika. Tampilkan semua postingan

Telah diciptakan lampu pijar terkecil didunia

Jumat, 06 November 2009


Pertama kalinya atas jasa seorang Thomas Alva Edison pada tahun 1879 yang telah menemukan lampu listrik. Kini, dalam rentang waktu yang begitu lama. Kurang lebih 130 tahun, telah diciptakan lampu pijar terkecil didunia oleh sebuah tim dari Institut NanoSystems Calyfornia UCLA.

Dengan menyatukan dua hal pokok dari teori fisika yang bertentangan, yakni termodinamika dan mekanika quantum, sebuah tim dari UCLA (Departemen Fisika dan Astronomi) yang terdiri dari Chris Regan, Yuwei Fan, Scott Singer dan Ray Bergstorm akhirnya menciptakan sebuah lampu pijar terkecil dari penelitian mereka dengan menyatukan termodinamika dan mekanika kuantum.

Lampu pijar ini memanfaatkan kawat pijar yang terbuat dari karbon single nanotube yang hanya selebar 100 atom. Dengan kasat mata, kawat pijar tak terlihat sama sekali ketika lampu dimatikan, tetapi tampak bagaikan titik cahaya kecil ketika lampu dinyalakan.

Kurang dari 20 juta atom, kawat pijar tabung nano cukup besar keduanya untuk menerapkan asumsi statistik dari termodinamika dan cukup kecil untuk mempertimbangkan sebagai sebuah molekular itulah yang disebut sistem mekanik kuantum.

Karena radiasi black-body dan skala ukuran (nano) adalah perbatasan antara kedua teori, kita berpikir hal ini adalah sebuah perjanjian sistem untuk diselidiki,” Regan mengatakan, “Tabung nano karbon yang digunakan sebagai lampu kawat pijar ideal untuk tujuan mereka karena kecil dan stabilitas temperatur yang luar biasa.”

Tabung-tabung nano Karbon yang ditemukan pada tahun 1991, menggunakan karbon dalam satu bola lampu bukanlah satu ide baru. Thomas Alva Edison pada bola lampu aslinya pun menggunakan kawat pijar karbon. Penelitian yang dilakukan oleh tim UCLA tersebut persis seperti Edison, kecuali kawat pijar mereka adalah 100,000 kali lebih sempit dan 10,000 kali lebih pendek, untuk satu total volume hanya satu dari 1 millyar pada Edison.
Selengkapnya...

SOFCs Untuk Teknologi Energi Yang Efisien


“Sel Bahan Bakar Oksida Padat” atau nama kerennya adalah “Solid Oxide Fuel Cells (selanjutnya dalam tulisan ini disingkat sebagai: SOFCs) memiliki potensial yang besar untuk dimanfaatkan dalam berbagai macam aplikasi baik yang bersifat stasioner maupun yang bersifat bergerak. Aplikasi stasioner dapat dipakai mulai dari pemenuhan kebutuhan residensil sampai pembangunan pembangkit tenaga listrik. Sedangkan aplikasi yang sifatnya bergerak, teknoligi ini dapat dipakai pada kapal laut, kapal ruang angkasa, dan juga otomotif.

SOFCs adalah sel elektrokimia yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik dari oksidasi bahan bakar (bahan bakar yang diperguanakan dapat berupa hidrokarbon maupun gas hydrogen). Reaksi antara bahan bakar dengan gas oksigen melibatkan serah terima electron sehingga dihasilkan arus listrik. Bila bahan bakar yang dipergunakan adalah gas hydrogen maka hasil samping reaksi ini adalah air, sehingga sumber energi dari SOFCs adalah energi yang ramah lingkungan oleh sebab itu SOFCs sekarang menjadi bahan penelitian yang berkembang untuk tujuan komersial.

Setiap satu sel SOFCs atau disebut juga sebagai modul terdiri 4 bagian utama yaitu anoda, elektrolit, katoda dan interkonektor. Interkonektor berada diantara anoda-elektrolit-katoda dan berfungsi untuk menghubungkan satu sel SOFCs dengan sel SOFCs yang lain sehingga energi listrik yang dihasilkan oleh setiap sel dapat digabungkan.

Untuk menghasilkan energi listrik dalam jumlah besar maka modul dirangkai satu sama lain dalam satu seri rangkain. Jadi rangkain keseluruhan SOFCs memiliki urutan sebagai berikut: Interkonektor-anoda-elektrolit-katoda-interkonektor-anoda-elektrolit-katoda-interkonektor dan seterusnya. Diantara modul harus terdapat pemisah (kita sebut sebagai: seals) untuk memastikan tidak ada udara dan bahan bakar yang akan tercampur, bila hal ini terjadi maka akan mengurangi efisiensi dari sel bahan bakar SOFCs dan dapat mengakibatkan terjadinya reaksi pembakaran di dalam modul.

Peizhen (Kathy) Lu, asisten professor bidang ilmu bahan dan teknik material di Virginia Tech. menyatakan bahwa, “seals adalah permasalahan terbesar yang harus dihadapi dalam pengembangan SOFCs secara komersial” dan seals ini menjadi salah satu kelemahan SOFCs yang harus segera dihadapi agar teknologi SOFCs ini dapat dikomersilkan.

Untungnya setelah melakukan riset yang panjang Lu berhasil menemukan suatu material berbahan dasar kaca yang dapat dijadikan sebagai seals potensial. Seals dari material kaca ini memiliki kekuatan dan daya tahan yang panjang untuk dipakai dalam rangkaian SOFCs. Tak ayal lagi dengan penemuan ini maka Departemen Energi Amerika Serikat tak segan-segan menggelontorkan dana sekitar $365,000 untuk mengembangkan riset Lu.

Lu menyatakan bahwa agar SOFCs dapat beroperasi maka diperlukan sumber bahan bakar. Salah satu sumber bahan bakar yang menjanjikan menurutnya adalah gas hydrogen, disebabkan gas hydrogen adalah sumber energi yang paling bersih dan ramah lingkungan yang pernah ada. Permasalahannya, gas hydrogen yang terdapat dialam jumlahnya terbatas.

“Kita harus mencari cara untuk mendapatkan sumber gas hydrogen” , kata Lu. Salah satu alternatif menurutnya adalah dengan menggunakan proses yang disebut sebagai “solid oxide elecrolyzer cell process”. Dengan proses ini gas buang berupa air dari SOFCs dapat diproses lagi untuk dihasilkan gas hydrogen dan oksigen. Gas hydrogen kemudian dapat digunakan lagi ke SOFCs dan gas oksigenya dapat dipakai untuk proses oksidasi gas hydrogen.

“Ketertarikan penelitian kami ada pada permasalahan yang timbul pada penggunaan material pada kondisi kritis untuk dapat menghasilkan energi listrik dan cara-cara untuk menghasilkan gas hydrogen dalam jumlah banyak dengan harga murah”, kata Lu yang juga merupakan seorang ahli dalam bidang desain material dan sintesis material.

Kata Miller yang merupakan Manager Lisensi Hak Intelektual Virginia Tech menyatakan,” Seal kaca yang telah ditemukan tersebut bebas dari barium oksida, kalsium oksida, magnesium, dan alkali oksida yang lain, sebagai tambahan seals tersebut hanya mengandung boron oksida dalam jumlah yang sangat sedikit sekali dan bahkan bisa diabaikan”.

Hal ini sangat penting mengingat sifat seals yang dipergunakan harus secara mekanis dan kimiawi kompatibel dengan berbagai macam oksida dan komponen logam sel bahan bakar mengingat penggunaan SOFCs selalu berulang dan melibatkan perubahan temperature dari temperature kamar ke temperature yang tinggi pada saat beroperasi yaitu sekitar 1,800 degrees F (1,000 C).

Referensi:

http://www.sciencedaily.com/releases/2009/05/090521184437.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Solid_oxide_fuel_cell

http://en.wikipedia.org/wiki/Regenerative_fuel_cell
Selengkapnya...

Sel Bahan Bakar, Solusi Energi Masa Depan


Sejak ditemukan oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman, Christian Friedrich Schönbein pada tahun 1838, sel bahan bakar telah berkembang dan menjadi salah satu sumber energi alternatif. Para ahli kimia dari General Electric mengembangkan sel bahan bakar sebagai pembangkit listrik yang dimulai pada tahun 1955. Pada tahun 1958, sel bahan bakar untuk pembangkit listrik secara komersial dikembangkan pertama kalinya. Pengembangan terus berlanjut hingga pada tahun 2009 ini diprediksikan akan dapat menghasilkan keluaran listrik hingga 400 KW.

Sel bahan bakar adalah alat yang menghasilkan energi listrik secara elektrokimia. Seperti halnya sel elektrokimia, sel bahan bakar memiliki anoda dan katoda. Pada anoda terdapat bahan bakar gas hidrogen. Sedangkan pada katoda terdapat gas oksigen yang digunakan sebagai oksidator. Hidrogen yang berasal dari anoda diubah menjadi ion hidrogen dan elektron. Pada katoda, oksigen direduksi dengan adanya elektron. Perbedaan potensial yang terjadi pada anoda dan katoda inilah yang menghasilkan arus listrik.

Sel bahan bakar telah menjadi salah satu fokus penelitian di negara- negara industri dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Dengan meningkatnya isu pemanasan global oleh gas rumah kaca, sel bahan bakar menawarkan energi ramah lingkungan yang tidak mengemisi gas CO2 sebagai penyumbang utama efek rumah kaca. Efesiensi sel bahan bakar secara teoritis dapat mencapai 100% adalah salah satu kelebihan yang tidak dapat dimiliki oleh pembangkit listrik dengan bahan bakar gas, minyak bumi dan batu bara yang menggunakan prinsip mesin Carnot. Dan yang paling terpenting adalah sumber bahan bakar yang melimpah, yaitu hidrogen. Dengan luas lautan mencapai dua pertiga permukaan bumi, air adalah salah satu sumber hidrogen yang tak terbatas.

Superioritas dari sel bahan bakar juga harus dibayar mahal dengan perlunya penelitian intensif guna mencapai pembangkit listrik yang murah, ramah lingkungan dan dapat diperbaharui. Pada tahun 2005, Amerika Serikat menganggarkan US$3,7 milliar untuk riset dan pengembangan sel bahan bakar dan hidrogen. Sel bahan bakar ini memerlukan material elektrokatalis sebagai anoda dan katoda yang dapat mengkatalisa reaksi oksidasi hidrogen dan reduksi oksigen. Saat ini, elektrokatalis yang superior adalah platina, logam yang sangat mahal dan langka jumlahnya sehingga banyak penelitian ditujukan untuk mencari material lain selain logam platina. Sumber hidrogen yang berasal dari air juga merupakan masalah yang saat ini dihadapi. Mahalnya proses elektrokatalisa air untuk mendapatkan hidrogen juga merupakan kendala pemasaran sel bahan bakar saat ini, sehingga belum dapat bersaing dengan bahan bakar minyak bumi.

Berkurangnya sumber daya minyak bumi dan tuntutan untuk mengurangi gas rumah kaca menjadikan sel bahan bakar ini suatu solusi guna mencegah krisis energi dan lingkungan. Dengan berkembangnya hasil penelitian, harga energi sel bahan bakar ini akan bisa ditekan dan akan menjadi salah satu sumber energi alternatif utama dimasa yang akan datang.
Selengkapnya...

Mengubah Urin Menjadi Bahan Bakar Hidrogen


Peneliti dari Amerika telah mengembangkan cara yang efisien untuk memproduksi gas hidrogen dari urin – tentu saja hal ini menjadi salah satu alternative untuk sumber bahan bakar mobil dimasa depan melainkan juga menjadi cara untuk memperdayagunakan limbah yang dihasilkan oleh manusia.

Penggunaan gas hydrogen untuk bahan bakar mobil telah menjadi alternative bahan bakar yang penggunaannya semakin meningkat, hal ini disebabkan dengan mengggunakan gas hydrogen maka gas buang yang dihasilkan tidak mencemari lingkuangan karena yang keluar hanya uap air. Akan tetapi salah satu kendala yang dihadapi adalah kurangnya sumber gas hydrogen yang murah dan mudah diperbaharui. Gerardine Botte dari Universitas Ohio kemungkinan telah menemukan jawaban atas permasalahan tersebut, dengan menggunakan pendekatan proses elektrolisis dia berhasil menghasilkan gas hydrogen dari urin, salah satu limbah yang sangat berlimpah di bumi dan tentu saja urine ini menjadi sumber gratis sehingga dapat memangkas biaya produksi gas hydrogen.

Botte mengatakan bahwa ide ini muncul kepadanya beberapa tahun lalu pada saat dia menghadiri konferensi bahan bakar, saat itu dia mendiskusikan bagaimana cara mengubah sumber daya air menjadi sumber daya energi yang bersih. “Saya berharap kita bisa mengubah air menjadi sumber energi yang ramah lingkungan”, katanya. Dia pun mulai memikirkan dengan mencari sumber limbah yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menghasilkan gas hydrogen.

Kandungan urin terutama adalah urea, dimana urea ini memiliki empat atom hydrogen per molekulnya, iktan hydrogen dengan ataom N dalam urea lebih lemah dibandingkan ikatan hydrogen dengan atom O dalam air. Botte kemudian memutuskan untuk menggunakan elektrolisis untuk memecah bagian molekul urea ini dengan menggunakan elektroda berbasis nikel yang bersifat selektif dan efisien untuk mengoksidasi urea. Untuk memecah molekul urea ini diperlukan voltase sebesar 0,37 Volt yang mana voltase ini masih lebih rendah jika dibandingkan yang diperlukan untuk mengelektrolisis air yaitu sekitar 1,23 volt.

Selama proses yang terjadi urea teradsorbsi pada elektroda nikel, yang kemudian mengalirkan electron yang kemudian molekul urea terurai. Gas hydrogen murni terbentuk pada katoda, gas nitrogen dan sedikit gas oksigen dan hydrogen terbentuk di anoda. Gas karbondioksida juga dihasilkan pada saat elektrolisis akan tetapi gas ini tidak bercampur dengan gas yang dihasilkan pada anoda dan katoda disebabkan gas ini bereaksi dengan KOH membentuk kalium karbonat. “Perlu waktu bagi kami untuk menggunakan rine manusia sebagai percobaan sehingga kami bisa mempubilkasikan penelitian kami ini”, kata Botte.

Menurut Botte, proses yang ada untuk memisahkan urin dari air saat ini sangat mahal dan tidak efisien. Urin umumnya terhidrolisis menjadi amonik sebelum terlepas keudara sebagai gas ammonia. Terbentuknya gas ini akan membentuk ammonium sulfat dan partikel nitral di udara, dimana kedua zat ini dapat menyebabkan berbagai macam permasalahan bagi kesehatan manusia seperti asma, bronchitis, dan kematian dini.

Grup peneliti tersebut telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari sitem elektrolisis yang akan dipakai termasuk mempelajari mekanisme reaksinya secara komputasional. Botte meyakini bahwa teknologi ini akan mampu dibuat dalam skala yang besar untuk menghasilkan gas hydrogen. “salah satu kendala yang menghalangi proses adalah banyaknya garam yang ada dalam sumber urin,” kata Botte.

Bruce Logan, seorang ahli energi dari limbah dan direktur Pennsylvania State University’s H2E Center and Engineering Environmental Institute memberikan applause pada Botte yang telah memberi kontribusi atas alternative produksi hydrogen tanpa memecah molekul air. Bagaimanapun juga dia memberi suatau pernyataan bahwa urea lebih cepat diubah menjadi ammonia dengan menggunakan bakteri, hal ini tentu saja menjadi batasan penelitian yang dilakukan oleh Botte. Tapi Logan merasa bahwa ide Botte sangat bagus dengan memikirkan bagaimana cara untuk mengolah limbah urine kita tidak hanya untuk menghasilkan hydrogen akan tetapi juga untuk menghasilkan sumber lain misalnya fosfor sebagai sumber pupuk menginggat dimasa mendatang seperti halnya minyak bumi fosfor bisa menjadi barang yang langka dan kita harus memikirkan cara untuk mericycle fosfor untuk keperluan di masa datang.

Sumber : http://www.rsc.org/chemistryworld/News/2009/July/02070902.asp

sumber gambar: http://www.sxc.hu
Selengkapnya...

Katalis Homogen Yang Unik, Terpisah Sendiri Setelah Reaksi


Apa itu katalis homogen ? Bila kita menggunakan larutan asam untuk katalisasi esterifikasi maka larutan tadi tentu saja akan bercampur sempurna dengan senyawa reaktan dan produknya. tSecara umum, katalis homogen adalah senyawa yang memiliki fase sama dengan reaktan ketika reaksi kimia berlangsung. Sebenarnya banyak sekali penggunaan katalis homogen dalam industri, mulai dari yang konvensional, murah meriah semacam katalis asam atau basa hingga senyawa-senyawa organometalik yang mahal. Selektifitas hasil reaksi dan kondisi reaksi yang lembut adalah pertimbangan utama pemilihan katalis homogen.

Persoalan utama yang sering dijumpai dalam industri maupun sintesa kimia menggunakan katalis homogen adalah sulitnya melakukan pemisahan katalis dari produk. Metode yang jamak digunakan adalah destilasi atau mengubah kepolaran dan hal tersebut menyita material maupun energi cukup besar.

Impian para ilmuwan katalis dan industrialis adalah mendapatkan katalis homogen yang memenuhi syarat-syarat ekonomis dan mudah dipisahkan setelah reaksi berlangsung sehingga dapat segera dipakai lagi. Pada bulan Agustus 2003, ilmuwan dari laboratorium nasional Brookhaven, R. Morris dan Vladimir Dioumaev memperlihatkan semacam katalis homogen yang bisa mengendap setelah reaksi hidrosililasi senyawa keton selesai berlangsung. Senyawa kation kompleks tungsten yang memiliki ikatan koordinasi lemah terhadap anion merupakan pemecahan persoalan dalam reaksi tersebut.

Logika prosesnya sebenarnya sederhana yaitu, sebelum terjadi reaksi, katalis dan reaktan benar-benar larut sempurna karena memiliki kepolaran yang sama. Namun, seiring proses berjalan, ternyata produk yang dihasilkan memiliki kepolaran berbeda dan akibatnya adalah terpisahnya katalis dari produk dengan sendirinya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah terbentuknya dua fasa yaitu produk dan katalis yang membentuk material semacam minyak.

Memang teknologi ini belum bisa digeneralisir karena reaksi hidrosililasi keton adalah reaksi yang spesifik dan tidak digunakannya pelarut apapun pada reaksi tersebut. Namun ini benar-benar penemuan baru dan menggembirakan karena terbuka kesempatan melakukan penelitian lebih lanjut, khususnya bidang katalis homogen.

Selengkapnya...

Gabriel, Kau merepotkan saja !?..


Mengapa temperature beku dan titik didih air pada skala Fahrenheit memiliki angka aneh 32 derajat dan 212 derajat?

Untuk kejadian sehari-hari macam membeku dan mendidihnya air, kedua angka tersebut memang aneh, bahkan bagi mereka yang biasa menggunakannya. Angka-angka tersebut terlanjur demikian karena seorang pembuat botol dan fisikawan amatir Jerman bernama Gabriel Fahrenheit (1868-1736) membuat beberapa keputusan buruk.

Peralatan untuk mengukur temperature sudah ada sejak 1592,walaupun belum seorang pun tahu definisi temperature, dan tidak seorang pun mencoba memasang angka-angka pada alat ukur itu.

Maka di tahun 1714 Fahrenheit membuat tabung kaca berisi benang air raksa yang sangat tipis. Ia memilih benda cair itu karena cantik, mengkilap, dan mudah dilihat sewaktu naik dan turun akibat pemuaian atau penyusutan karena mengalami pemanasan dan pendinginan. Akan tetapi thermometer Fahrenheit seperti alat sejenis terdahulu tanpa angka, dan terpikirlah olehnya untuk memasang angka-angka pada alatnya, maksudnya supaya orang-orang lebih mudah membuat perbandingan.

Maka Fahrenheit mulai merancang seperangkat alat untuk dituliskan pada tabung kacanya. Namun,susunannya harus sedemikian sehingga air raksa akan naik ke angka yang sama pada semua thermometer ketika berada pada temperature yang sama. Dan disinilah Gabriel mulai berulah. Para sejarahwan mungkin masih berdebat soal jalan pikirannya sesungguhnya, namun cerita berikut mungkin masuk akal.

Pertama, ia berpendapat bahwa karena sebuah lingkaran penuh memiliki 360 tahap yang disebut derajat, alangkah baiknya jika thermometer pun memiliki 360 tahap-sekalian menyebutnya derajat-untuk rentang antara temperature air beku dan temperature air didih. Akan tetapi 360 akan menyebabkan tiap derajatnya terlalu kecil, maka sebagai ganti ia memilih 180.

Kini mantaplah satu derajatnya, yakni tepat 1/180 jarak tabung antara tanda air membeku dan tanda air mendidih, selanjutnnya ia masih bingung tentang angka yang dipakai. Nol dan 180? 180 dan 360? Atau 32,212?(bukankah 212-32=180?).

Maka, ia memasukkan thermometer nya ke dalam sebuah campuran paling dingin yang dapat dibuatnya-sebuah campuran antara es dan suatu bahan kimia yang disibutnya ammonium chloride-dan disebutnya termperatur itu “nol”.(Gawat, dalam hal ini Anda terlalu arogan,Gabriel!! Begitu yakinkah Anda bahwa orang lain tidak akan mampu membuat temperature hamper 460 derajat di bawah temperature Anda.)

Ketika ia mengukur temperature nya tubuh dia sendiri, termometernya naik sampai 100 angka. (Baiklah, tepatnya 98.6 tapi jangan lupa menyimak kenapa angkanya demikian.) itulah salah satu kelebihan Fahrenheit ; sebagai manusia ia ingin agar temperature tubuh manusia mencatat angka 100 pada skala thermometer.

Sesudah itu, ia memasukkan termometernya ke dalam campuran es dan air, dan menemukan air raksa di dalamnya 32 derajat lebih tinggi daripada temperature nol campuran dinginnya. Maka, itu sebabnya titik beku air menjadi 32 derajat pada skala Fahrenheit. Akhirnya, jika temperature air mendidih harus 180 derajat lebih tinggi dari itu, berarti ia mendapat 32 angka + 180, atau 212. Sampai disini dulu cerita tentang Gabriel Fahrenheit.

Enam tahun setelah tubuh Fahrenheit menjadi sama dengan sekelilingnya, seorang astronom Swedia bernama Anders Celsius (1701-1744) mengusulkan skala centigrade untuk temperature, yang sekarang kita sebut skala Celcius. Centigrade artinya 100 derajat; ia menetapkan ukuran derajat sedemikian sehingga antara titik beku dan titik didih air terdapat 100 derajat, bukan 180 derajat. Selanjutnya ia mendefinisikan “temperature nol”nya pada titik beku air, sebagai titik acuan yang dapat diolah dengan mudah. Maka ia menetapkan titik didih air jatuh pada temperature 100 derajat.(Yang menarik,dengan alasan yang hanya diketahui para astronom Swedia, Celsius mula-mula menetapkan 100 untuk titik beku dan nol untuk titik didih, tetapi sepeninggal orang membalik ketetapan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan angka 98.6 yang oleh sebagian orang disebut sebagai temperature tubuh manusia “normal”? Itu jangan dianggap serius. Suhu manusia berubah-ubah sedikit tergantung waktu dalam sehari, atau dalam sebulan(untuk wanita), juga karena metabolisme. Akan tetapi suhu manusia memang rata-rata berkisar pada 37 derajat Celsius pada kebanyakan orang, maka dokter menyebutnya “normal”. Coba berapa harga Fahrenheit untuk 37 derajat Celsius? Betul, 98.6 derajat, angka yang kelihatan keren daripada angka bulatnya..

Bicara soal konversi, saya tidak pernah bosan untuk mengumumkan sebuah cara mudah untuk mengonversi temperature. Saya tidak tahu mengapa guru-guru terus menerus mengajarkan rumus-rumus yang rumit itu di sekolah, dengan angka 32, kurung-kurung dan pecahan yang tidak tetap,padahal ada cara yang lebih jauh dan lebih sederhana namun akurat.

Bagini caranya :

Untuk mengubah Celsius ke Fahrenheit, tambahkan 40 kalikan dengan 1,8 kemudian kurangi dengan 40.

Untuk mengubah Fahrenheit ke Celsius,tambahkan 40 bagi dengan 1,8 kemudian kurangi 40

Hanya begitu saja. Rumus di atas mujarab karena (a) 40 derajat di bawah nol pada kedua skala mempunyai temperature yang sama dan (b) satu derajat Celsius 1,8 kali besar daripada satu derajat Fahrenheit. (180:100=1,8).

Ada satu hal yang sering dilupakan : thermometer sesungguhnya hanya mengukur temperature mereka sendiri.

Coba renungkan. Sebuah thermometer dingin menghasilkan bacaan temperature rendah; sebuah thermometer panas menghasilkan bacaan temperature tinggi. Sebuah thermometer tidak memberikan bacaan temperature sebuah benda sampai kita menempelkannya di benda itu dan menjadi hangat, atau menjadi dingin, sampai sama dengan temperature benda bersangkutan. Itu sebabnya kita harus menunggu sampai temperature demam dihangatkan oleh tubuh kita sebelum memberikan bacaan yang benar.

Perlu di ingat! Termometer suhu badan bukan mengukur temperature tubuh melainkan mengukur temperaturnya sendiri.

Selengkapnya...